Home » » RELASI KONSEPSI ISLAM DAN KE-EKSISTENSIAN ALLAH

RELASI KONSEPSI ISLAM DAN KE-EKSISTENSIAN ALLAH

Konsepsi Islam dapat diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang utuh dan kokoh, yang tegak di atas pondasi keimanan. Sabda Rasulullah SAW: 
"Bangunan Islam itu atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan". (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesempurnaan Islam telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: 

 
" ...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai jadi agama bagimu..."(QS. 5:3).
Karakteristik (ciri khas) Islam berikut ini dapat menggambarkan kesempurnaan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah: 

1. Bersumber dari Allah SWT (robbaniyyah), bukan buatan manusia. Tujuan pertama dan terakhirnya adalah agar manusia menyembah Allah yang merupan tujuan penciptaan manusia. (QS. 51:56) 
2. Bersifat kemanusiaan yang universal, yaitu diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk untuk seluruh umat manusia, bukan hanya dikhususkan untuk suatu kaum atau golongan. (QS. 21:107, 34:28, 7:158) 
3. Lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada suatu pekerjaan, baik kecil ataupun besar, kecuali Islam telah menerangkan hukumnya. (QS. 6:38, 16:89) 
4. Ajaran Islam mudah untuk dikerjakan tanpa kesulitan sedikitpun, sebab Islam tidak membebankan manusia suatu kewajiban kecuali sebatas kemampuannya. (QS. 2:286) 
5. Ajaran Islam bertujuan untuk menegakkan keadilan mutlak dan mewujudkan persaudaraan dan pesamaan ditengah kehidupan manusia, serta memelihara darah, kehormatan harta, akal, dan agama mereka. (QS. 5:8, 6:152, 4:125) 
6. Bersifat seimbang (tawazun), dimana seluruh ajaran Islam menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum,antara jasad dan ruh, antara dunia dan akhirat. Firman Allah: 

"Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi...." 

Dalam hal keseimbangan antara kebutuhan jasad dan ruh, Nabi SAW bersabda: 

"Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu, jiwamu mempunyai hak atasmu dan kelurgamu juga memiliki hak atasmu, maka dirikanlah setiap yang mempunyai hak-haknya". (Al Hadist) 

 
7. Perpaduan antara 'tidak berubah' dan 'menerima perubahan'. Ajaran Islam tidak berubah pada pokok-pokok dan tujuannya, namun menerima perubahan pada cabang, sarana dan cara-caranya, sehingga dengan sifat menerima perubahan ini Islam dapat menyesuaikan diri dan dapat menghadapi perkembangan zaman. Dan dengan sifat tidak berubah pada pokok-pokok dan tujuannya Islam tidak dapat larut dan tunduk pada perubahan zaman dan perputaran waktu. 


Beberapa karakteristik inilah yang membedakan agama Islam dari agama yang lain, dari peraturan dan undang-undang buatan manusia Islam merupakan satu-satunya agama Allah dan Allah tidak akan menerima agama selain Islam. (QS. 3:19,85) Namun manusia saat ini banyak yang lebih suka membuat aturan sendiri dan tidak mau menjalankan aturan Islam dalam kehidupan. Padahal jelas manusia hanyalah ciptaan Allah sehingga dalam hidupnya tentu saja membutuhkan aturan dari pencip-Nya. Dalam tubuh umat Islam sendiri saat ini ada yang merasa pesimis melihat realita umat yang serba menyedihkan. Mereka ragu dan bahkan menilai mustahil dengan isu bangkitnya kembali Islam. Padahal Allah telah menjanjikan kemenangan agama ini dalam firman-Nya: 
"Dan Dialah yang menurunkan Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya".(QS. 9:33).

Kandungan ajaran Islam secara global dapat dbagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Pokok dan pondasi (asas), yang terdiri atas aqidah dan ibadah. Aqidah mencakup dua kalimat syahadat dan rukun iman yang enam, sebagaimana firman Allah dalam QS. 2:177. Sedangkan ibadah disini adalah dalam pengertian khusus yang tercakup dalam rukun Islam. 
2. Bangunan (bina'), berupa aturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (sistem hidup), seperti: 
a. Sistem politik, diantaranya prinsip musyawarah (QS. 3:159; 42:38), perdamaian (QS. 2:208; 8:61), hukum (QS. 6:57; 12:40)dan jinayat. 
b. Sistem perekonomian, seperti masalah utang piutang (QS. 2:282), pegadaian (QS. 2:283), penghalalan jual beli dan pengharaman riba (QS. 2:275). 
c. Sistem keprajuritan (militer), seperti mempersiapkan tentara (QS. 8:60). 
d. Sistem akhlak, diantaranya tentang berbuat kebaikan (QS. 2:44), berkata benar (QS. 2:177), memaafkan (QS. 2:237). 
e. Sistem sosial kemasyarakatan, seperti masalah zakat (QS. 2:43), keadilan dalam menegakkan hukum (QS. 4:58) dan konsep persaudaraan (QS. 49:10,13) 
f. Sistem pengajaran, seperti berlaku lemah lembut dalam memberi pelajaran (QS. 3:159), pemberian nasihat (QS. 31:12-19). 

3.  Pendukung dan penopang (muayyidat) yang mencakup: 
a. Konsep jihad (QS. 22:39,40) 
b. Amar ma'ruf nahi munkar (QS. 3:104) 
c. Hukum-hukum (QS. 5:49) 
d. Sanksi (QS. 5:33,38) 

 
Bangunan Islam tidak bisa berdiri kecuali dengan adanya pondasi. Dan agama Islam belum tegak sempurna bila bangunannya belum berdiri pada pribadi-pribadi kaum muslimin dan pada sistem hidup masyarakat. Dan dengan adanya penopang, bangunan itu akan berdiri tegak dan kokoh. Di antara sesuatu yang wajib diterima oleh akal adalah bahwa setiap sesuatu yang ada pastilah ada yang mengadakan. Begitu pula dengan alam semesta ini, tentu ada yang menjadikannya (QS.52:35). Bukti-bukti eksistensi Allah dapat ditinjau berdasarkan lima dalil, yaitu : 
1. Dalil fitrah, yaitu perasaan alami yang tajam pada manusia bahwa ada dzat yang maujud, yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan, yang mengawasi segala sesuatu, mengurus dan mengatur segala yang ada di alam semesta, yang diharapkan kasih sayang-Nya dan ditakuti kemurkaan-Nya. Hal ini digambarkan oleh Allah SWT dalam QS. 10:22. 
2. Dalil akal, yaitu dengan tafakkur dan perenungan terhadap alam semesta yang merupakan manifestasi dari eksistensi Allah SWT. Orang yang memikirkan dan merenungkan alam semesta akan menemukan empat unsur alam semesta : 
 a. Ciptaan-Nya 
· Bila kita perhatikan makhluk yang hidup di muka bumi, kita akan menemukan berbagai jenis dan bentuk, berbagai macam cara hidup dan cara berkembang biak (QS. 35:28). Semua itu menunjukkan adanya zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizki dan meniupkan ruh kehidupan (QS. 29:19,20). Bagaimanapun pintarnya manusia, tentu ia tidak akan dapat membuat makhluk yang hidup dari sesuatu yang belum ada. Allah SWT menantang manusia untuk membuat seekor lalat jika mereka mampu (QS. 22:73). Nyatalah bahwa tiada yang dapat menciptakan alam semesta ini kecuali Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Hidup. 

b. Kesempurnaan 
· Kalau kita perhatikan, akan terlihat bahwa alam ini sangat tersusun rapi, diciptakan dalam kondisi yang sangat sempurna tanpa cacat.Hal ini menunjukkan adanya kehendak agung yang bersumber dari Sang Pencipta. Sebagai contoh, seandainya matahari memberikan panasnya pada bumi hanya setengah dari panasnya sekarang, pastilah manusia akan membeku kedinginan. Dan seandainya malam lebih panjang sepuluh kali lipat dari malam yang normal tentulah matahari pada musim panas akan membakar seluruh tanaman di siang hari dan di malam hari seluruh tumbuhan membeku. Firman Allah: 
· "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (QS. 67:3,4) 
 
c. Perbandingan ukuran yang tepat dan akurat (QS. 25:2) 
· Alam ini diciptakan dalam perbandingan ukuran, susunan, timbangan dan perhitungan yang tepat dan sangat akurat. Bila tidak, maka tidak akan mungkin para ilmuwan berhasil menyusun rumus-rumus matematika, fisika, kimia bahkan biologi. 

d. Hidayah (tuntunan dan bimbingan) (QS. 20:50) 
· Allah memberikan hidayah (tuntunan dan petunjuk) kepada makhluk-Nya untuk dapat menjalankan hidupnya dengan mudah, sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Pada manusia sering disebut sebagai ilham dan pada hewan disebut insting/naluri. Seorang bayi ketika dilahirkan menangis dan mencari puting susu ibunya. Siapa yang mengajarkan bayi-bayi tersebut? Seekor ayam betina membolak-balikkan telur yang tengah dieramnya, agar zat makanan yang terdapat pada telur itu merata, juga kehangatan dari induk ayam tersebut, dengan demikian telur tersebut dapat menetas. Secara ilmiah akhirnya diketahui bahwa anak-anak ayam yang sedang diproses dalam telur itu mengalami pengendapan bahan makanan pada tubuhnya di bagian bawah. Jika telur tersebut tidak digerak-gerakkan maka zat makanan tersebut tidak merata, dengan demikian ia tidak dapat menetas. Siapa yang mengajarkan ayam untuk berbuat demikian ? Kita sering mendengar seseorang yang ditimpa musibah yang membuat hatinya hancur luluh, putus harapan, lalu ia berdoa menghadap Allah SWT. Tiba-tiba musibah itu hilang, kebahagiaan pun kembali dan datanglah kemudahan sesudah kesusahan. Siapa yang mengabulkan doa, siapa pula yang mengajarkan orang, yang kafir sekalipun, untuk berdoa/meminta pertolongan pada suatu zat di luar dirinya yang dirasakannya bersifat Maha Kuasa dan Maha Berkehendak ? Firman Allah : 

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu pun berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih." (QS.17:67).

Eksistensi Allah terlihat dalam banyak sekali fenomena-fenomena kehidupan. Barangsiapa yang membaca alam yang maha luas ini dan memperhatikan penciptaan langit dan bumi serta dirinya sendiri, pasti ia akan menemukan bukti-bukti yang jelas tentang adanya Allah SWT. Firman Allah : 
 
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar." (QS.41:53)

1. Dalil akhlaq 
· Secara fitrah manusia memiliki moral (akhlaq). Dengan adanya moral (akhlaq) inilah, ia secar naluriah mau tunduk dan menerima kebenaran agar hidupnya lurus dan urusannya berjalan teratur dan baik. Zat yang dapat menanamkan akhlaq dalam jiwa manusia adalah Allah, sumber dari segala sumber kebaikan, cinta dan keindahan. Keberadaan 'moral' yang mendominasi jiwa manusia merupakan bukti eksistensi Allah. (QS. 91:7-8) 

2. Dalil wahyu 
· Para rasul diutus ke berbagai umat yang berbeda pada zaman yang berbeda. Semua rasul menjalankan misi dari langit dengan perantaraan wahtu. Dengan membawa bukti yang nyata (kitab/wahyu dan mukzijat) mengajak umatnya agar beriman kepada Allah, mengesakan-Nya dan menjalin hubungan baik dengan-Nya, serta memberi peringatan akan akibat buruk dari syirik/berpaling dari-Nya (QS.6:91). Siapa yang mengutus mereka dengan tugas yang persis sama? Siapa yang memberikan kekuatan, mendukung dan mempersenjatai mereka dengan mukzijat? Tentu suatu zat yang eksis (maujud), Yang Maha Kuat dan Perkasa, yaitu Allah. Keberadaan para rasul ini merupakan bukti eksistensi Allah. 

3. Dalil sejarah 
· Semua umat manusia di berbagai budaya, suku, bangsa dan zaman, percaya akan adanya Tuhan yang patut disembah dan diagungkan. Semuanya telah mengenal iman kepada Allah menurut cara masing-masing. Konsensus sejarah ini merupakan bukti yang memperkuat eksistensi Allah. (QS.47:10; perkataan ahli sejarah Yunani kuno bernama Plutarch). 


Terdapat beberapa cara mengenal Tuhan menurut ajaran selain Islam, diantaranya yaitu dengan hanya mengandalkan panca indera dan sedikit akal, sehingga timbul prakiraan-prakiraan yang membentuk filsafat-filsafat atau pemikiran tentang ketuhanan. Filsafat dan pemikiran tersebut justru mendatangkan keguncangan dan kebingungan dalam jiwa. Sehingga hanya menanamkan keraguan dan kesangsian terhadap keberadaan Allah. (QS.34:51-54; 2:147; 22:11; 10:94)
Jalan yang ditempuh oleh orang-orang kafir tersebut melanggar fitrah mereka. Sebab mereka mencoba mengenal Allah dengan menggunakan panca indra saja. Padahal panca indra hanya bisa mendeteksi sesuatu yang dapat diraba, diukur, disentuh. Sebaliknya untuk mengenal sesuatu selain Allah mereka menggunakan panca indra dan akal. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang kafir ini pada akhirnya tidak pernah membawa mereka sampai mengenal siapa Sang Pencipta. Sebaliknya yang mereka dapatkan adalah ketidaktahuan akan Allah Yang Maha Mencipta.
Adapun jalan yang ditempuh Islam untuk mengenal Allah ialah dengan menggunakan keimanan dan dilengkapi dengan akal. Kedua potensi tersebut dioptimalkan dengan proses tafakkur dan tadabbur. Tafakkur artinya memikirkan ciptaan atau tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah). Tadabbur berarti merenungkan ayat-ayat Allah yang tertulis dalam al-Qur'an (ayat qauliyah). Sehingga timbul keyakinan di dalam hati tentang keberadaan dan kekuasaan Allah (QS.3:190-191; 12:105; 10:101)
Jalan yang ditempuh oleh orang mukmin bersandarkan pada fitrahnya sebagai manusia, yaitu mengoptimalkan akal, pemikiran, ilmu, serta hatinya untuk mengenal Allah lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya), bukan zat-Nya. Baik tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam, mukzijat serta dalm Al Qur'an. Lewat jalan inilah manusia akan mengenal Allah SWT.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi