Home » » PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI DITINJAU DARI SEGI PENDIDIKAN ISLAM

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI DITINJAU DARI SEGI PENDIDIKAN ISLAM

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini 

yushanyunus.blogspot.com
Sebagai mana di kemukakan bahwa beragamnya kehidupan manusia di permukaan bumi ini sudah menjadi sunnatullah dan mengalami perjalanan yang panjang, yang berbagi menjadi beberapa etape
(tahap). Dalam hal ini, etape awal manusia mula-mula berada dalam kandungan ibu rata-rata kurang lebih selama sembilan bulah sepuluh hari, kemudian lahir dan bertumbuh serta berkembangmemasuki etape (tahap) puberitas. Masa puberitas inipun akan lenyap dan berakhir setelah mengalami perjalanan pada tahap kedewasaan. Demikianlah pula kedewasaan kelak akan berubah lagi menjadi kehidupan yang memerlukan perlengkapan berupa pasangan dalam menata/menjalani kehidupannya di muka bumi ini.

Perjalanan hidup manusia dari suatu tahap ke tahap berikutnya telah menjadi fitrah ilahi, namun tantunya memerlukan bantuan dan bimbingan dari sesamanya agar tahap pertumbuhan dan perkembangannya berjalanan dengan normal, sehat dan berkelanjutan. Dalam hal ini, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia tidaklah sama antara satu individu dengan individu lainnya, baik secara fisik atau jasmaniah maupun secara psikis atau rohaniah.

Di kalangan ahli pendidikan sangat popular bahwa anak adalah bukan manusia biasa yang berbentuk kecil. Melainkan sebagai mahluk yang masih lemah dalam keseluruhan hidup jiwa raganya. Oleh karna itu kehidupan seorang anak kecil jauh berbeda dengan kehidupan dengan seorang yang telah dewasa.

Fase-fase pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan tahap-tahap atau proses yang mesti di lalui anak dalam kehidupannya. Namun dalam hal ini, istilah pertumbuhan dan perkembangan, sering kali di gunakan orang secara bergantian dengan maksud yang sama, meskipun sebenarnya kedua istilah ini mempunyai mempunyai perbedaan, namun masiah jarang dan sering kurang di perhatikan oleh seseorang. Untuk mengenal lebih jauh tentang perbedaan pengertian dari kedua istilah tersebut, maka sebagai bahan ilustrasi, penulis akan mengutip pandangan John Dewey tentang kehidupan manusia, sebagai berikut:

Apakah manusia itu? Manusia adalah mahluk yang hidup. Apakh itu hidup? Hidup pada hakikatnya adalah suatu proses pertumbuhan. Yang bertumbuh adalh hidup, sedangkan yang tidak tumbuh adalah mati. Itulah makna kehidupan, sesuatu, yang sesuatu harus bertumbuh, dan kita tahu sekarang, bagaimanakah manusia yang tidak bertumbuh itu? Kemudian timbul pertanyaan: apakah perumbuhan itu? Pertumbuhan adalah suatu proses penyesuaian pada tiap-tiap fase perubahan. Apakah pertumbuhan selalu di ikuti dengan perkembangan? Perkembangan sesuatu seering tergantung pada faktor-faktor pendukung pertumbuhan sesuatu itu. Apakah perkembangan itu? Perkembangan pada dasarnya adalah perubahan kualitatif sesuatu sehingga membuahkan hasil atau manfaat bagi pihak lain.

Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat di ketahui bahwa antar pertumbuhan dan perbedaan mempunyai arti maksud yang berbeda. Dalam hal ini, tumbuh berbeda dan berkembang, sehingga pribadi manusia yang bertumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang, sehingga pribadi manusia yang bertumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Hal itu, karena dalam pribadi manusia, baik jasmani maupun rohaninya, terhadap pula bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia. Baik jasmani maupun rohaninya, terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju ke arah kesempurnaan. Kedua bagian kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju ke arah kesempurnaan. Kedua bagian kondisi pribadi manusia itu adalah:

1. Pribadi material yang kuantitatif; dan
2. Pribadi fungsional yang kualitatif

Bagian pribadi material yang kuantitatif mengalami pertumbuhan, sedangkan bagian pribadi fungsional yang kualitatif mengalami perkembangan. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaru lingkungan. Hal ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kiecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas dan sebagainya. Material pribadi padat terdiri dari sel, aton, koromosom, rambut, molekul, dan lain-lain, dan dapat pula terdiri dari bahan-bahan kualitatif seperti: kesan, keinginan, ide, gagasan, pengetahuan, nilai dan lain-lain. jadi material itu dapat terdiri dari kualitatif dan kuantitatif yang tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh.

Apabila diperhatikan diatas, maka dapat diketahui bahwa meskipun istilah pertumbuhan dan perkembangan saling melengkapi, tapi sebenarnya mempunyai arti dan makna yang agak berlainan. Hal ini dikemukakan oleh Ahmad Fauzi, bahwa:

Pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran atau fungsi-fungsi mental, sedangkan perkembangan mengandung makna pemunculan hal yang baru. Pada peristiwa pertumbuhan akan tampak adanya penambahan jumlah atyau ukuran dari hal-hal yang ada, sedangkan dalam peristiwa perkembangan akan tampak adany sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya pohon mangga yang semula kecil menjadi besar adalah peristiwa pertumbuhan. Anak ayam kecil menjadi ayam besar adalah peristiwa pertumbuhan. Tetapi perubahan dari telur menjadi anak ayam adalah peristiwa perkembangan. Peristiwa pembuahan sel telur dengan sperma dalam kandungan ibu sampai menjadi anak adalah peristiwa perkembangan.

Dengan demikian, maka sangat jelas bahwa pertumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan, yang terjadi pada bagian pribadi materil yang kuantitatif. Namun dalam penggunaannya sehari-hari, istilah pertumbuhan tersebut seringkali dipakai secara bergantian dengan istilah perkembangan, meskipun mempunyai pengertian yang berbeda akan tetapi terkang sulit sekali dibedakan oleh sebagian orang.

Menurut Ahmad Mudzakir dan Joko Sutrisno, bahwa:

Perkembangan merupakan seatu perubahan, dan perubahan ini tadak bersifat kualitatif. Perkembangan ini tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi pungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapt diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi.

Dengan demikian maka nampak jelas perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan, namun merupakan suatu rangkaian kesatuan proses, sebab perubahan suatu pungsi adalah d’sebabkan oleh adanya proses pertumbuhan materi yang memungkinkan adanya fungsi itu dan disamping itu disebabkan oleh perubahan tingkah laku hasil belajar. Karena itu, perkembangan pribadi dapat dirumuskan sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungfsi kepribadian akibat dari pertumbuhan.

Sejalan dengan pengartian perkembangan diatas, maka Syamsu Yusuf LN, juga mengemukakan bahwa:

Perkembangan dapat diartikan sebagai” perubahan yang progresif dan kontinou ( berkesinangbungan ) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan adalah” perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaanya dan kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.

Berdasarkan kutipan diatas, dapat diketahui bahwa pada dasarnya perkembangan itu adalah suatu perubahan yang dialami oleh setiap individu menuju tingkst kedewasaannya, baik yang menyangkut jasmaniah maupun rohaniah. Dalam hal ini, terdapat beberapa pendapat tentang pengertian perkembangan berdasarkan aliran yang di anutnya masing-masing, yaitu:

1. Menurut pendapat aliran Asosiasi bahwa hakikatnya perkembangan itu adalah proses asosiasi.
2. Menurut pendapat aliran Gestalt dan Neo-Gestalt bahwa perkembangan itu adalah proses defresiasi, di mana hal yang primer adalah keseluruhan.
3. Menurut pendapat para ahli yang menganut Aliran Sosiologis bahwa perkembangan itu adalah proses sosiolisasi.

Memperhatikan uraian di atas dapat di kemukakan bahwa banyak para ahli telah mengemukakan tentang pengertian dari istilah perkembangan, namun terdapat perbedaan sesuai dengan dari sudut mana mereka memandang yang di anutnya, walaupun mereka berbeda tapi semuanya mengakui bahwa perkembangan itu adalah suatu perubahan menuju kearah yang lebih maju dan lebih dewasa.

Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Anak usia Dini

a. Berdasarkan Ranah

Menurut Piaget perkambangan ini dibagi dalam 4 tahap:

1. Sensori Motor (usia 0-2 tahun)

Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri anak. Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena di dorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya. Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesar adalah ‘menangis’.

2. Pra-operasional(2-7 tahun)

Pada usia ini anak menjadi ‘egosantris’, sehingga berkesan ‘pelit’, karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 mereka sudah mulai motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berfikit yang sistematis-rumit.

3. Operasional Konkrit (usia 7-11 tahun)

Saat ini anak mulai meninggalkan’egosentris’-nya dan dapat bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (kerja sama). Anak sudah dapat di motivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis. Namun dalam menyampaikan berita injil harus di perhatikan penggunaan bahasa.

4. Operasional formal (usia 11 tahun ke atas)

Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berfikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.

Namun kesulitan baru yang di hadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia puberitas.

Menurut Erick Erickson perkembangan Psycho-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang di pengaruhi oleh masyarakat dibagi manjadi 8 tahap:

1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)

Tahap pertama adalah tahap perkembangan rasa percaya diri. Fokus terletak pada panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.

2. Otonomi/Mandiri >< malu / ragu-ragu (usia 2-3 tahun)

Tahap ini bisa di katakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa ‘nakal’-nya. Sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam sekolah Minggu.

Namun kenakalannya itu tidak bisa di cegah begitu saja, karna ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tampat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya.

Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (orang tua-guru sekolah minggu).

3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)

Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal.. sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.

Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan firman Tuhan.

4. Industri/rajin >< inferioriti (usia 6-11 tahun)

Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah-termotivasi untuk belajar. Namun masih memilki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.

Sesuai dengan batasan usia sekola minggu pada umumnya, maka empat tahap berikutnya (usia di atas 11 tahun) tidak di bahas dalam kolom ini.

b. Berdasarkan Usia.

Perkmebangan otak sangat pesat pada usia anak 1-5 tahun, selain faktor keturunan, lingkungan, juga sangat berperan penting kombinasi keduanya menjadikan kemampuan anak luar biasa. Pengembangan kecerdasan anak hendaknya dilakukan sedini mungkin. Karena otak merupakan ergan pengatur seluruh bagian dalam tubuh. Seperti gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan takanan darah, sekresi hormon, pernafasan dan pengaturan emosi. Pertumbuhan perkembangan otak anak sesuai usia, pertumbuhan fisik anak dibarengi dengan proses perkembangan kognitif, bahasa, sosial dan emosional. Ada beberapa tahap-tahap perkembangan dari usia 1-5 tahun yaitu:

1. Perkembangan anak usia 1 tahun

1) fisik dan motorik kasar. Mampu berjalan dititah pada satu tangan berjalan beberapa langkah.

2) fisik dan motorik halus mampu menggenggam dengan lebih baik, dapat melepaskan genggaman bila di minta.

3) kognitif dan bahasa. Punya kosa kata lebih selain mama dan papa.

4) sosial dan emosi. Dapat menyesuaikan diri saat mengenakan pakaian.

2. Perkembangan anak usia 2 tahun

1.fisik dan motorik kasar. Mampu berlari dengan jarak dengan baik, berjalan mundur tanpa kehilangan keseimbangan, mampu menendang bola tanpa jauh, mampu berdiri dan menangkap bola, mampu meloncat-loncat di tempat, naik turun tangga selangkah demi selangkah, berdiri dengan satu kaki tanpa kehilangan keseimbangan.

2. fisik dan motorik halus. Mampu menumpuk 7 kubus, meniru garis horizontal, lipat kertas.

3. kognitif dan bahasa. Mampu membuat kalimat dengan subjek,predikat dan objek.

4. sosial dan emosional. Mampu memegang sendok dengan baik, bercerita pengalaman baru, membantu melepaskan pakaian, mendengarkan cerita dengan gambar.

3. Perkambangan usia 3 tahun

a. fisik dan motorik kasar. Mampu mengendarai sepeda roda 3, mampu melompat, berlari maju mundur.

b. fisik dan motorik halus. Mampu menumpuk 10 kardus, meniru kontruksi kubus, membuat lingkaran, bisa main puzzle.

c. kognitif dan bahasa. Mengetahui usia dan jenis kelamin, mampu menghitung objek dengan benar, mengulang sebuah kalimat yang terdiri dari 6 suku kata.

d. sosial dan emosional mampu bermain mainan sederhana, mampu mengenakan pakaian sendiri, memakai sepatu dan mencuci tangan.

4. Perkembangan anak usia 4 tahun

1) fisik motorik kasar mampu melompat dengan satu kaki, melempar bola dari atas kepala, memanjat, mampu naik turun meja dengan satu kaki dimeja, dan satu kaki di lantai.

2) fisik dan motorik. Mampu menggunakan gunting untuk memotong gambar, menggambar orang 2-4 bagian tubuh selain kepala, serta mampu memilih garis yang lebih panjang di antara 2 garis.

3) kognitif dan bahasa. Mampu menghitung 4 koin dengan benar dan mampu berbicara.

4) sosial dan emosional. Dapat bermain dengan beberapa anak dan mulai intraksi sosial, bermain peran dan ketoilet sendiri.


5. Perkembangan anak usia 5 tahun

1) fisik dan motorik kasar. Mampu melakukan lompat tali dan berlomba lari.

2) fisik dan motorik halus. Mampu menggambar segitiga, mengetahui perbedaan berat banda mampu membuat bangunan dari balok.

3) Kognitif dan bahasa. Mampu berinterasi secara langsung dan bicara apa saja.

4) sosial dan emosinal. Sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk dan gampang meniru apa yang di lihat.

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

Telah dipahami bersama bahwa anak yang sedang bertumbuh dan berkembang dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari luar dirinya atau faktor lingkungan, baik faktor keturunan atau pembawaan yang bersifat kejiawaan sejak anak itu lahir maupun faktor yang bersifat jasmaninya.

Telah dipahami pula bahwa meskipun dorongan untuk tumbuh pada anak adalah kuat dan pola-pola pertumbuhannya sudah tertentu, namun kecepatan dan pola pertumbuhan dapat berubah sesuai lingkungan yang menunjang kebutuhan-kebutuhan dasar individu. Dalam hal ini, tidak semua anak mengalami pertumbuhan dengan cara yang sama. Hal ini terbukti dengan adanya anak yang tinggi dan ada pula yang rendah, ada anak yang kurus dan ada pula yang gemuk dan sebagainya.

Keunika pertubuhan pada anak-anak trsebut, antara lain disebabkan karena :

- Perbedaan kondisi lingkungan internal;

- Perbedaan konisi eksternal;

- Perbedaan mater herditary;

- Perbedaan aktivitas;

- Perbedaan kondisi fisiologis seperti cacat fisik;

- Perbedaan usia;

- Perbedaan jenis kelamin;

- Perbedaan hasil belajar.

Dengan demikian,maka setiap individu tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri yang unik, sesuai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal ini, karena dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kenyataannya memang tidak dapat dihindari adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, baik dalam proses pertumbuhan biologisnya maupun proses perkembangan psikisnya.

Menurut keterangan Abu Ahmad, bahwa ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak, antara lain:

1. Faktor-faktor sebelum lahir, yakni adanya gejala-gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak masih dalam kandungan.
2. Faktor pada waktu lahir, yakni terjadinya suatu gangguan pada anak di lahirkan.
3. Faktor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu setelah anak lahir, terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak.
4. Faktor psikologis, yaitu yakni adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat berfungsinya psikis, terutama yang menyangkut pada proses pertumbuhan anak.

Adapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi anak di kemukakan lebih jauh oleh Abu Ahmadi sebagai berikut:

a. Faktor hereditor, yakni keturunan atau warisan dari sejak lahir dari kedua orang tuanya, neneknya dan seterusnya yang biasanya diturunkan melalui cromohson.
b. Faktor lingkungan, yakni segala sesuatu yang ada pada lingkungan anak hidup (bertempat tinggal) atau (bergaul). Jadi segala sesuatu yang berguna di luar diri anak di alam semesta ini baik yang berupa mahluk hidup seperti manusia, tumbuhan, hewan atau makhluk yang mati seperti benda-benda padat, cair, gas, juga gambar-gambar. Demikian pula di samping yang telah di sebutkan di atas, sebagai benda-benda yang bersifat konkrit, ada juga lingkungan yang bersifat abstrak antara lain: situasi ekonomi, sosial, dan budaya serta ideologi atau pandangan hidup. Kesemua bentuk lingkungan dapat berdampak menguntungkan(positif) atau merugikan (negatif) bagi proses perkembangan anak.

Menurut keterangan di atas, bahwa pada garis besarnya ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk anak usia dini yakni faktor keturunan atau warisan dan faktor lingkungan, baik lingkungan rumah tangga atau keluarga maupun lingkungan sekolah, masyarakat atau lingkungan alam. Dalam kaitan ini, di kemukakan Syahril dan Riska Ahmad, bahwa pada dasarnya ada tiga kelompok para ahli yang mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, yang masing-masing pada aliran yang mereka anut, yaitu:

1. Para ahli yang menganut pendirian/aliran nativistik berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata di pengaruhi faktor-faktor yang di bawa sejak lahir.
2. Para ahli yang menganut aliran empiris, berpendapat bahwaperkembangan itu semata-mata tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak memainkan peranan sama sekali, atau bertentangan dengan aliran nativistik.
3. Para ahli yang menganut aliran konvergensi berpendapat bahwa perkembangan itu akan di tentukan oleh faktor pembaawaaan dan faktor lingkungan. Jadi seorang anak yang berbakat pada suatu bidang akan dapat berkembang bakatnya itu jika tersedia fasilitas lingkungan yang memadai.

Memperhatikan ketika pendirian dari para ahli yang di anutnya masing-masing di atas, tampak jelas bahwa pendapat para ahli yang mengikuti aliran pertama adalah bertentangan dengan pendapat para ahli yang mengikuti aliran kedua, namun dapat dikompromikan atau dipadukan antara keduanya oleh para ahli yang mengikuti pendapat alilran ketiga diatas. Karena itu, maka dikemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengeruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk anak usia dini adalah faktor pembawaan/keturunan dan faktor lingkungan.

Menurut Ahamd Fauzi, bahwa:

Turunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir kedunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu bapak atau nenek dan kakek.warisan(turunan/pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, integensi bakat sifat-sifat dan penyakit. Warisan atau turunan yang di bawa anak sejak dari kandungan sebagian besar berasal dati kedua orang tua dan selebihnya dari nenek moyangnya dari kedua belah pihak (ibu bapaknya).

Apabila di perhatikan kutipan di atas, maka jelas sekali bahwa pengaruh keturunan atau warusan adalah sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama usia dini juga tak kalah pentingnya, baik lingkungan rumah tangga atau keluarga, maupun lingkungan masyarakat dajn alam.

Selanjutnya, Syamsu Yusuf LN, juga memaparkan bahwa:

Setiap individu di lahirkan di dunia dengan membawa hereditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu di peroleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik dan psikis. Hereditas atau keturunan merupakan aspek individu yang bersifat bawaan dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, tergantung pada kualitas hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan merupakan faktor penting di samping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan itu meliputi fisik, psikis, sosial dan religius.

Dengan demikian, maka cukup jelasalah bahwa ada beberapa faktor yang mempengruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini baik faktor intern maupun ekstern pribadi anak. Hal ini, secara garis besarnya terdiri dari dua faktor yakni faktor keturunan atau warisan dan faktor lingkungan, sehingga baik buruknya, positif atau negatifnya sifat-sifat seseorang sangat berpengaruh dari faktor-faktor yang dimaksud. Demikian pula tentang pertumbuhan psikisnya, tidak akan mungkin terbentuk dengan baik dan moral tanpa adanya faktor-faktor tertentu yang mempengeruhinya. Dari beberapa penyataan diatas, menunjukkan bahwa ternyata bahwa faktor makanan, keturunan dan lingkungan merupakan faktor yang banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, sehingga faktor-faktor tersebut perlu di perhatikan oleh orang tua.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi