Home » , » PENGARUH HUKUMAN TERHADAP PENDISIPLINAN ANAK USIA DINI MENURUT TINAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

PENGARUH HUKUMAN TERHADAP PENDISIPLINAN ANAK USIA DINI MENURUT TINAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Hukuman

yushanyunus.blogspot.comSebagaimana yang telah diketahui bahwa metode hukuman adalah merupakan alat pendidikan yang menjadi sarana atau salah satu faktor yang menentukan berhasilnya pendidikan. Pendidik akan menggunakan sarana tersebut secara selektif, kreatif, dinamis dan bertanggung jawab guna memperolah mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Sebelum membahas lebih jauh harus dipahami apa sebenarnya hakekat dari pada hukuman. Dalam buku pengantar ilmu pendidikan oleh Drs. Amir Daien Indrakusuma dikemukakan dua prinsip dari pada pengadaan hukuman sebagai berikut :

a. Hukuman diadakan, oleh karena adanya pelanggaran, adanya kesalahan yang diperbuat. (Punitur, Quina peccattum est).

b. Hukuman dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran, (Punitur, ne peccatur).


Dengan berdasarkan pada prinsip di atas, maka diketahui bahwa hakekat hukuman dikarenakan karena sudah ada aturan, tata tertib adat kebiasaan yang dilanggar oleh anak didik sehingga diberikan hukuman oleh pendidik sebagai tindakan pendidikan.

Metode hukuman adalah alat yang dipergunakan oleh pendidik agar dapat kembali ke keadaan yang baik dan benar. Metode ini dipergunakan kepada hal yang sudah terjadi, dengan demikian metode hukuman dilaksanakan setelah diadakan pencegahan (preventif) yang merupakan tindakan terakhir.

Metode pendidikan hukuman dalam pembahasan ini akan disamakan pengertiannya dengan alat pendidikan refresif yang “disebut juga dengan alat pendidikan kuratif atau alat pendidikan korektif”. Kotektif artinya memperbaiki keadaan anak didik agar kembali kepada keadaan yang baik dan benar. H. Abdurrahman mengemukakan beberapa tentang teori hukuman sebagai berikut :

1. Hukuman sebagai tindakan memperbaiki (korektif)

2. Hukuman sebagai tindakan pencegahan (preventif)

3. Hukuman sebagai tindakan melindungi (persenvaratif)

4. Hukuman sebagai tindakan menakuti (apprehensive)

5. Hukuman sebagai tindakan ganti rugi (compentatif).


Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa metode hukuman atau alat pendidikan refresif atau korektif adalah alat pendidikan yang dipergunakan dalam memperbaiki keadaan si terdidik yang kurang baik yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan atau norma sehingga si terdidik dapat menyadari kesalahannya untuk dapat kembali kepada hal yang benar.

Selain dari penjelasan di atas, lebih lanjut Drs. Amir Daien Indrakusuma mengemuakakan tentang pengertian hukuman sebagai berikut :

Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan segaja hingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.

Dengan menganalisa kembali rumusan yang dikemukakan oleh Drs. Amir Daien Indrakusuma jelaslah bahwa hukuman merupakan alat pendidikan yang dilakukan dengan sengaja, sadar dan bertanggung jawab kepada anak didik oleh pendidik agar tidak mengulangi kembali pelanggaran yang dilakukannya atau dalam bahasa taadi di atas membuatnya menjadi jera.



B. Dasar dan Tujuan Metode Hukum.

1. Dasar metode hukum.

Dalam pemilihan alat pendidikan, harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Pemilihan metode hukuman sebagai alat pendidikan didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut :

“surulah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat bilamana sudah berusia 7 (tujuh) tahun, dan apa bila telah berusia 10 tahun, pukullah ia (bila tidak mau melakukan shalat tersebut) dan pisahkanlah tempat tidurnya”.

Dari hadits yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa hukuman sebagai metode dan alat pendidikan dibolehkan dalam Islam. Hal ini jelas seperti ditegaskan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits tersebut.

Penerapan metode hukuman sebagai alat pendidikan yang diinginkan oleh hadits di atas dimulai sejak dini sebagaimana digambarkan bahwa apabila anak tersebut telah berusia 10 tahun belum mau juga melaksanakan perintah Allah (Shalat) maka orang tuanya sudah wajib untuk memukulnya. Hukuman yang di jelaskan pada pengertian sebelumnya jelas maksudnya bukan sebagai penyiksaan atau balas dendam kepada anak yang bersangkutan, akan tetapi agar anak tersebut dapat menjadi sadar.

Jadi metode hukuman dapat dipahami sebagai alat pendidikan secara tidak lanngsung atau dengan kata lain alat pendidikan kuratif agar anak yang bersangkutan dapat memperbaiki kesalahan dan kekeliruannya, secara tidak langsung melalui metode hukuman, apakah dengan hukuman jasmani ataupun dengan hukuman psikis.

Dalam pelaksanaan pemberian hukuman perlu juga diperhatikan jenis pelanggaran yang ia perbuat, sebagaimana yang dikemukakan oleh H. Abdurrahman, bahwa syarat-syarat pemberian hukuman adalah :

a. Hukuman diberikan sesuai dengan kesalahan dan tingkat perkembangan anak (secara wajar), rasional dan tanpa emosi, hindarkan sejauh mungkin hukuman badan.

b. Hukuman diberikan secara adil, logis dan menggugah perasaan, kesusilaan, moral dan menyentuh kata hati anak didik.

c. Hukuman diberikan atas dasar kasih sayang sehingga hukuman itu menimbulkan perasaan enak baik pada anak didik maupun pada pendidikan (terpaksa).


Berdasarkan keterangan yang dikemukakan di atas. Bahwa pada pelaksanaan hukuman tidak dengan karena pembalasan hanyauntuk membuat anak sakit tetapi untuk membuat anak menjadi jera, sehingga di dalam pelaksanaan hukuman terdapat nilai pendidikan.

2. Tujuan metode hukuman.

Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa hukuman merupakan salah satu metode dalam pendidikan yang dijadikan alat untuk mendidik oleh pendidik. Metode ini mempunyai tujuan untuk membantu pendidik, apakah sebagai pendidik dalam lingkungan formal, informal maupun non formal tidak lain adalah untuk mempermudah melaksanakan tugasnya dalam mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan dalam melaksanakan alat pendidikan tidaj langsung tersebut harus secara selektif, kreatif, dinamis dan bertanggung jawab, artinya alat pendidikan hanya sebgai alat bukan sebagai tujuan, tetapi alat untuk mencapai tujuan, maka dalam pelaksanaan metode hukuman kepada peserta didik, pendidik harus dengan jeli membaca situasi hukuman apa yang semestinya diberikan kepada anak tersebut.

Metode hukuman adalah alat yang dipergunakan oleh pendidik agar dapat kembali ke keadaan yang baik dan benar. Metode ini dipergunakan kepada hal yang sudah terjadi, dengan demikian metode hukuman dilaksanakan setelah diadajan pencegahan (preventif) yang merupakan tindakan terakhir.

Peryataan di atas juga sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Drs. Zuhairini, dkk, bahwa tujuan metode yang slaah dan berusaha untuk memperbaikinya , sehingga anak-anak dapat menjadi sadar dan sekaligus disiplin dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya.

Dengan menganalisa penjelasan-penjelasan yang dikemukakan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa tujuan metode hukuman tidak lain adalah untuk menyadarkan anak akan kekeliruan yang dia perbuat yang dapat merugikan diri sendiri dan bahkan mungkin juga akan merugikan orang lain.

Dari berbagai keterangan yang dikemukakan di atas, maka jelaslah bahwa metode hukuman sebagai alat pendidikan, memang cocok digunakan pada anak-anak, karena memberi manfaat yang bertujuan untuk menyadarkan akan terhadap kesalahan-kesalahannya, dan berusaha untuk memperbaikinya.

C. Macam-macam Hukuman

Alat pendidikan hukuman diadakan setelah terjadi sesuatu perbuatan yang dianggap tidak sesuai perbuatan yang dianggap melanggar peraturan atau pemberian sesuatu yang sudah dilakukan,misalnya anak tersebut tidak menjalankan shalat,puasa dsb,yang memang sudah semestinya dilaksanakan seperti dalam hadist yang telah dikemukakan sebelumnya.

Adapun macam-macam alat pendidikan hukuman yang akan dibahas selanjutnya adalah metode hukuman yang dijadikan sebagai alat pendidikan yang digunakan oleh si-pendidik untuk si-terdidik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.dalam hal ini,hukuman sebagai alat pendidikan terdapat beberapa(teori)mengenai hukuman, yaitu :

1. Teori hukuman alam.

Teori ini dikemukakan oleh j.j Rousseau, yamg tidak menghendaki hukuman dibuat-buat dan biarkan alam sendiri yang menghukumnya,artinya bahwa hukuman yang diberikan hendaknya yang sewajarnya dan merupakan akibat dari perbuatan yang mereka perbuat.lebih lanjut dikemukakan contoh bahwa seorang anak yang senang memanjat pohon dan sesuatu ketika terjatuh dari pohon itu.jatuh itu adalah merupakan alam sebagai akibat dari perbuatan yang ia lakukan yaitu senang memanjat pohon.atau contoh lainnya yaitu seorang anak yang belum pandai bersepeda dibiarkan pergi krtempat-tempat yang ramai,kemudian mendapat kecelakaan ditengah jalan.

Teori hukum alam ini pada umumnya sebagai pendidik jelas tidak menyetujui,karena hukuman diserahkan kepada alam,yang akibatnya jika dibandingkan dengan perbuatan yang ia lakukan jelas tidak setimpal dan terlalu berat, karena akibat dari perbuatannya itu dapat menyusahkan dirinya sendiri dan juga orang tuanya. Tentu diusahakan untuk mencarikan obat supaya dapat sembuh. Sehingga kita cenderung untuk melarangnya terlebih dahulu dari pada mananggung akibatnya.

2. Teori ganti rugi

Teori ganti rugi adalah anak-anak diminta untuk bertanggung jawab dengan kata lain menanggung resiko dari akibat perbuatan yang ia lakukan. Misalnya anak-anak bermain lempar-lempar batu di depan rumah sehingga memecahkan kaca jendela, sehingga anak yang bersangkutan harus mengganti kaca jendela yang ia pecahkan itu. Pada teori ini nilai pendidikan yang dpaat dipetiktidak terlalu banyak, hanya dengan perbuatan yang ia lakukan itu bisa jera karena resiko dari perbuatannya itu berat dengan menggantinya seperti pada contoh yang dikemukakan tadi.

3. Teori menakut-nakuti

Pelaksanaan materi ini adalah menakut-nakuti anak-anak agar tidak melaksanakan perbuatan yang dilarang dalam perbuatan yang melanggar peraturan. Sebagai contoh suruhan melaksanakan shalat karena itu adalah perintah dari Allah SWT, Yang Maha Pencipta. Dengan menakut-nakuti bahwa jika dilanggar peraturan itu akan dibakar api neraka dihari kemudian dan apinya akhirat lebih panas dari pada apinya dunia.

4. Teori memperbaiki.

Teori memperbaiki adalah hukuman yang diterimah oleh anak didik yang bersifat memperbaiki. Hukuman yang bisa menyadarkan anak didik insyaf atas kesalahan yang ia perbuat. Dan dengan adanya keinsyafan ini anak didik akan berjanji di dalam hatinya sendiri tidak akan mengulangi perbuatannya. Sebagai contoh misalnya seorang anak sekolah dasar yang lalai melaksanakan pekerjaan rumahnya, maka seorang guru memberikan hukuman kepada anak yang bersangkutan dengan memberikan tugas nulis kalimat “Saya tidak boleh lupa mengerjakan “PR”), sampai lima puluh kali, sehingga anak tersebut tidak pernah lupa lagi akan tugas yang diberikan untuknya.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi