Home » » JIHAD INTELEKTUAL DALAM ISLAM

JIHAD INTELEKTUAL DALAM ISLAM

Jihad
Ada dua mazhab pemikiran yang menjadi pemicu terhadap dua revolusi yang terjadi pada bangunan pemahaman dan kreatifitas manusia. Pada mazhab pemikiran yang pertama disebut mazhab Idealisme dan yang kedua disebut mazhab Materialisme. Kedua mazhab ini menampilkan revolusi dalam rentang waktu yang berbeda dan ini menjadi perdebatan yang cukup panjang hingga beabad-abad lamanya. Misalnya mazhab Idealisme membangun perdebatan kebenaran yang dikenal dengan Revolusi Theology. Kerangka perdebatan yang digunakan adalah sistem rasional(Burhan) sebagai pembuktian adanya sesuatu yang berasifat mutlak.
Sedangkan mazhab materialisme melakukan perdebatan tentang kebenaran melalui pembuktian ilmiah dengan dukungan Empiris. Para Empirisme-Materialis mengatakan bahwa sejauh kebenaran itu tidak dapat dibuktikan secara empiris, maka kebenaran tersebut hanya  isapan jempol belaka. Jadi alam perubahan yang dialami manusia tidak dapat di nilai jika hanya berpangkal pada alam gagasan sebagaimana yang dianut kaum idealis, melainkan butuh pembuktian empiris yang dapat di indrai sebagaimana halnya alam nyata dengan kebenaran yang nampak.
Perjalanan perdebatan tersebut mencapai puncaknya sekitar abad ke-21, dari seorang pakar hukum yang terkenal bernama Anselm Von Feurbach. Ia mengatakan; Agama, dalam bentuk apapun dia muncul tetap merupakan kebutuahan ideal bagi ummat manusia, tanpa agama manusia tidak dapat hidup sempurna. Bagi Feurbach agama adalah Ide atau gagasan yang dapat melakukan perubahan terhadap bangunan  pemahaman kepada yang mutlak. Tetapi pendapat Feurbach ditentang oleh putranya sendiri yang bernama “Ludwig”. Ia mengatakan;  Manusia adalah apa yang dimakan, dan makanan merupakan penentu kehidupan manusia . Jika manusia kata Ludwig bermateri, maka ia dapat melakukan perubahan melalui materi yang merupakan sumber kebenaran. Termasuk agama dapat dibuat melalui materi tersebut. Kedua pendapat itu mewarnai kehidupan manusia sampai saat ini.
Pada esensinya revolusi pemikiran dari dua mazhab tersebut, membangun perangkat nilai terhadap kehidupan dari dua katub yang berbeda. dan keduanya membutuhkan kemutlakan sebagai dasar pertimbangan untuk menilai kenyataan bagi kehidupan manusia sehingga peran agama sebagai sesuatu yang mutlak terpulang kepada penganutnya, sejauh mana ia dapat memahami agamanya sebagai hujjah atau dalil yang di pahami. Karena Tuhan memberikan dua dalil bagi manusia yaitu Aqly dan Naqly. Dalil yang berkaitan dengan aqly adalah rasionalitas manusia dan naqly berkaitan dengan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Kecenderungan dalil naqly adalah penjelas (Al-Bayan) terhadap rasionalitas manusia. Sedangkan aqly cenderung memelihara dan meletakkan prinsip-prinsip yang suci.

Perdebatan tentang kebenaran yang dibangun oleh dua mazhab pemikiran yang dikemukakan diatas, pada hakekatnya keduanya tertuju kepada adanya kemutlakan yang dapat dijadikan dasar untuk menilai terhadap perubahan yang tak dapat dihindari. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan (change) merupakan karakter esensial transformasi globalisasi. Suatu pergeseran yang bukan hanya menggambarkan keterjalinan ruang dan waktu dengan jaringan telekomunikasi informatika, melainkan termasuk mengobarkan gerakan substansial seluruh masyarakat dunia yang tengah berubah. Teori Tom Peters pakar Managemen Amerika mengatakan; Di zaman ini tidak ada apapun yang konstan melainkan perubahan itu sendiri. Dan tak ada yang dapat mengendalikan dan mengarahkan dirinya dalam perubahan tersebut kecuali adanya kepercayaan dari yang mutlak.
Perubahan global yang membuat manusia saling terkait antara satu dengan yang lainnya, maka Direktur Program Pasca Sarjana ITB, Prof. Kudrat Sumintapura Phd, mengatakan dalam sebuah simposium yang berbicara tentang masa depan bahwa: agar tetap eksis, dalam era kompetisi global yang diwarnai dengan keterkaitan antara satu negara dengan negara lain, maka kita harus memiliki dua karakteristik yaitu, kemampuan memperbaharui diri (renewal ability) dan jangan kehilangan harapan (not losing the hope). Karena pada prinsipnya manusia kata filosof Inggris – Charles Handy dalam bukunya Beyond Certainty, mengatakan bahwa segala sesuatu kreasi manusia selalu diciptakan dua kali. Ciptaan yang pertama pada alam pikirannya dan kedua disusul dengan tindakan . Dan harapan, diciptakan manusia  didalam fikirannya kemudian disusul dengan tindakan. Jika harapan hilang, maka tindakan ikut hilang – termasuk identitas diri manusia tersebut ikut hilang. Mungkin pertimbangan seperti itu sehingga Sayyidina Ali Bin Abi Thalib K.W. berdo’a didalam tradisi kuno Islam mengatakan “ Wahai Tuhan,….. Kasihanilah kami karena hanya harapan sebagai puncak kekayaan kami”. Sedemikian pentingnya harapan bagi setiap benak dan nafas manusia, sehingga sahabat bermohon dengan iba kepada Tuhannya seperti Sayyidina Ali K.W.
Sebagai muslimah yang memiliki keyakinan akan kekuatan agung yang menata alam semesta dan memiliki dalil rasional, seharusnya mematri ulang harapannya dalam reposisi terhadap realitas yang dihadapi. Karena zaman, dari waktu kewaktu adalah perubahan.. Konsekwensi perubahan tersebut yaitu keterbukaan. Karena dunia yang saling terkait satu sama lainnya (the borderless word) menutup diri dengan dunia luar adalah sesuatu yang fatal dan manausia akan kehilangan harapan.

Perjuangan melalui perspektif intelektual; adalah kemampuan menegakkan tingkat pemahaman orang terhjadap doktrin-doktrin agamanya yang dapat memberikan ruang gerak melalui keterbukaan. Hal yang di maksud dengan keterbukaan yaitu menggabungkan dua aliran pemikiran antara Idealistik (gagasan) dengan Materialistik (materi) karena agama mementingkan peran gagasan yang terbentuk pada alam pemikiran manusia misalnya harapan. Dan pada akhirnya faktor penentu gagasan adalah dunia materi sehingga dapat terbaca dan menjadi penentu sejarah. Materi dan gagasan adalah menyederhanakan persoalan dengan melihat keduanya sebagai dua hal yang berinteraksi.
Menguraikan prinsip-prinsip Islam dalam mengikuti dan mengatasi perubahan menuju kualitas hidup yang lebih baik maka Islam sebagai gagasan dapat dilihat pada S.Ibrahim Ayat 1 dari Az Zumar kepada  An Nur,Al-Maidah 15, Al Ahzab 41, 43, yang menyimpulan Islam menghendaki perubahan. Dan Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari peningkatan dimensi intelektual (pengenalan syariat Islam) Al Ankabut 45. Sehingga ketercerahan tentang penilaian peristiwa dapat diketahui dengan baik.
Akhirnya Islam sebagai manifestasi Rahmat Tuhan untuk mengantar manusia menuju puncak ketinggiannya. yang memiliki berbagai universalitas.pertama; Ia adalah suatu prinsip universal yang jelas, yang tidak tergantung kepada perubahan zaman dan waktu, kedua; tidak bergantung pada ruang dan waktu, lintas suku termasuk pada fanatisme kelompok. karena islam sebagai suatu jalan yang terang diturunkan oleh yang Maha Tahu, dimana pengetahuan-Nya meliputi seluruh ruang dan waktu dan inilah ciri syariat Islam yang sesungguhnya.
Qur’an mengandung prinsip-prinsip universal yang berubah. sang pelimpah Eksistensi lebih mengetahui hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia yang tidak akan berubah dengan waktu; dan Ia telah mencukupkan Islam sebagai suatu Ad-din yang sempurna dalam arti, mencukupi kebutuhan manusia dan kemanusiaan untuk mentransformasikan dirinya menuju kesempurnaannya yang hakiki.(Kata DR. Dimitri Mahayana M.Eg). Sebuah Refleksi Untuk kita renungkan yang pada akhirnya terpulang pada kita semua untuk berjihad.
Wassalam.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi