Home » » HUKUMAN BAGI PELAKU KORUPSI DALAM ISLAM Part 2 Penerapan Ta’zir Bagi Pelaku Korupsi

HUKUMAN BAGI PELAKU KORUPSI DALAM ISLAM Part 2 Penerapan Ta’zir Bagi Pelaku Korupsi

Artikel berikut adalah kelanjutan atau bagian ke dua dari artikel sebelumnya, Silahkan baca artikel SANKSI HUKUM BAGI PELAKU KORUPSI DALAM ISLAM

Selanjutnya silahkan membaca artikel berikut:

Pengertian dan Jenis-Jenis Ta’zir

Ta’zir ialah hukuman terhadap terpidana yang tidak ditentukan secarategas bentuk sanksinya di dalam nash. Hukuman ini dijatuhkan untukmemberikan pelajaran kepada terepidana agar ia tidak mengulangi kejahatanyang pernah ia lakukan.. Jadi jenis hukumannyadisebut dengan ‘uqubah mukhayyarah ( hukuman pilihan).

Jarimah yang dikenakan hukuman ta’zir ada dua jenis, yaitu :

a.Jarimah yang dikenakan hukuman had danqishash, jika tidak terpenuhisalah satu rukunnya, seperti pada jarimah pencurian dihukum ta’zir bagiorang yang mencuri barang yang tidak disimpan dengan baik, atau bagiorang yang mencurti barang yang tidak mencapai nishab pencurian. Pada jarimah zina dihukum ta’zir bagi yang menyetubuhi pada selain lubang kmaluan (oral). Pada jarimah qadzaf dihukum ta’zir bagi yang mengqadzaf dengan tuduhan berciuman bukan bejina.
b.Jarimah yang tidak dikenakan hukuman had danqishash, seperti jarimahpengkhianatan terhadap suatu amanat yang telah diberikan, jarimahpembakaran, suap dll.

Penerapan Ta’zir Bagi Pelaku Korupsi

Hukuman ta’zir dapat diterapkan kepada pelaku korupsi. Yang jadipertanyaan ialah, mengapa korupsi termasuk kepada jarimah ta’zir ? Kitaketahui bahwa korupsi termasuk ke dalam salah satu jarimah yang tidakdisebutkan olehnash secara tegas, oleh karena itu ia tidak termasuk ke dalamjenis jarimah yang hukumannya adalah had dan qishash. Korupsi sama sepertihukumghasab, walaupun harta yang dihabiskan si pelaku korupsi melebihinishab harta yang dicuri yang hukumannya potong tangan. Tidak bisadisamakan dengan hukuman terhadap pencuri yaitu potong tangan, hal inikarena termasuksyubhat. Akan tetapi disamakan atau diqiyaskan pada hukumanpencurian yang berupa pencuri mengembalian uang hasil curian.

Dalam jarimah korupsi ada tiga unsur yang dapat dijadikan pertimbangan bagi Hakim dalam menentukan besar hukuman :

Pertama : perampasan harta orang lain.
Kedua : pengkhianatan atau penyalahgunaan wewenang, dan
Ketiga : kerjasama, atau kongkalingkong dalam kejahatan.

Ketiga unsur ini telah jelas dilarang dalam syari’at Islam. Selanjutnyatergantung kepada kebijaksanaan akal sehat, keyakinan dan rasa keadilanHakim yang didasarkan pada rasa keadilan masyarakat untuk menentukanhukuman bagi si pelaku korupsi. Meskipun seorang Hakim diberi kebebasanuntuk mengenakan ta’zir, namun dalam menentukan hukuman, seorang Hakimhendaknya memperhatikan ketentuan umum pemberian sanksi dalam HukumPidana Islam yaitu :

a.Hukuman hanya dilimpahkan kepada orang yang berbuatjarimah, tidak boleh orang yang tidak berbuat jahat dikenai hukuman
b.Adanya kesengajaan, seseorang dihukum karena kejahatan apabila ada unsurkesengajaan untuk berbuat jahat, tidak ada kesengajaan berarti karenakelalaian, salah, lupa, atau keliru. Meskipun demikian karena kelalaian,salah, lupa atau keliru tetap diberi hukuman, meskipun bukan hukumankarena kejahatan, melainkan untuk kemaslahatan yang bersifat mendidid\k.
c. Hukuman hanya akan dijatuhkan apabila kejahatan tersebut secara meyakinkan telah diperbuatnya
d.Berhati-hati dalam menenetukan hukuman, membiarkan tidak dihukum dan menyerahkannya kepada Allah apabila tidak cukup bukti.
Secara umum korupsi dalam pandangan Islam adalah perbuatan kriminal yang bertentangan dengan moral dan etika keagamaan. Prilaku korupsi dapatmemupuskan pahala jihad/syahid. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwaRasulullah menegaskan bahwa akibat korupsi seseorang yang sepantasnyamenjadi ahli sorga (karena Syahid), malah masuk neraka karena prilakuculasnya. Ketika ada seorang sahabat gugur dalam peretempuran Khaibar,banyak para sahabat memuji dan menyanjungnya sebagai pahlawan yang matisyahid, sehingga ia akan menjadi ahli sorga. Akan tetapi Nabi menepisnyadengan mengatakan “ tidak, selembar sorban yang dicurinya dari harta rampasan perang Khaibar akan membakar tubuhnya di neraka”

Ibn Taimiyah menyebut beberapa model hukuman jarimah ta’zir yang pernah dicontohkan oleh nabi dan para sahabatnya : “ Batas minimal hukuman ta’zir tidak dapat ditentukan, tapi intinya adalahsemua hukumanmenyakitkan bagi manusia, bisa berupa perkataan, tindakanatau perbuatan dan diasingkan. Kadang-kadang seseorang dihukum ta’zirdengan memberinya nasehat atau teguran, menjelekakannya dan menghina-kannya. Kadang-kadang seseorang dihukum ta’zir dengan mewngusirnyadengan meninggalkan negerinya sehingga ia bertaubat. Sebagaimana nabipernah mengusir tiga orang yang berpaling, mereka itu adalah Ka’ab bin Malik,Maroroh bin Rabi’ dan Hilal bin Umaiyyah. Mereka berpaling dari Rasulullahpada perang Tabuk. Maka nabi memerintahkan untuk mengasingkan mereka,kemudian nabi memaafkan mereka setelah turun ayat-ayat al-Quran tentangditerimanya taubat mereka. Dan kadang-kadang hukuman ta’zir berbenukpemecatan dari dinas militer bagi prajurit yang melarikan diri dari medanperang, karena melarikan diri dari medasn perang merupakan dosa besar. Begitupula pejabat apabila melakukan penyimpangan maka ia diasingkan”.

Uraian tersebut menegaskan kepada kita bahwa hukuman jarimah ta’zirsangat bervariasi mulai dari pemberian teguran sampai pada pemenjaraan danpengasingan.

Mengaca pada pengalaman nabi dan para sahabat di atas memberikanhukuman ta’zir kepada pelaku korupsi adalah dapat berupa pilihan ataugabungan diantara berbagai jenis ‘uqubah berikut:
1). Pidana atas jiwa (al-uqubah al-nafsiyah), yaitu hukuman yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang, seperti peringatan dan ancaman.
2). Pidana atas badan (al-‘uqubah al-badaniyyah), yaitu hukuman yang dikenakan pada badan manusia, seperti hukuman mati, hukuman dera/jilid dan hukuman potong tangan.
3). Pidana atas harta (al-‘uqubah al-maliyah), yaitu hukuman yang dijatuhkan atas harta kekayaan seseorang, seperti diyat, denda dan perampasan
4). Pidana atas kemerdekaan, yaitu hukuman yang dijatuhkan kepadakemerdekaan manusia, seperti hukuman pengasingan (al-hasb) atau penjara(al-sijn).
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi