Home » » HADITS MAUDHU' ATAU HADITS PALSU

HADITS MAUDHU' ATAU HADITS PALSU

Pengertian Hadits Maudhu

yushanyunus.blogspot.comالحديث secara bahasa berarti الجديد, yaitu sesuatu yang baru, selain itu hadits pun berarti الخبر , berita. Yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. Sedangkan موضع merupakan derivasi dari kata وضع – يضع – وضعا yang secara bahasa berarti menyimpang, mengada-ngada atau membuat-buat.

Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah:

ما نسب الى رسول الله صلى الله عليه و السلام إختلافا و كذبا ممّا لم يقله أويقره

Artinya: Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya.

Dr. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan,

اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول الله فحد يثه يسمى الموضع

Artinya:Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah, maka haditsnya dinamakan maudhu’. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89)

Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan

هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول الله صلى الله عليه والسلام

Artinya:Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89)


Sejarah Perkembangan Hadits Palsu

Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut:

- Menurut Ahmad Amin, bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw, beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannyaمن كذب عليّ متعمّدا فليتبوّأ مقعده من النّار . Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. telah terjadi pemalsuan hadits. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits, dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories, selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya.

- Menurut jumhur muhadditsin, bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan.


Faktor-faktor yang mendorong pembuatan hadits maudhu’

Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’), yaitu diantaranya:

a. Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. Misal munculnya Syiah, kemudian Khawarij. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”.

Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait, bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut:

لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة

الجنة شم فاطمة

Artinya: “Ketika Nabi diisra’kan, Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga, beliau lalu mencium Fatimah”

Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali, sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri, mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut:

ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله

Artinya: “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku, maka bunuhlah dia”

b. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq, mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah, akhlaq, pengobatan dan hokum tentang halal dan haram. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah:

Artinya: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah, dengan berkendaraan unta kelabu, sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”.

c. Fanatik kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, kebahasaan, dan kultus terhadap Imam mereka. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut:

ان الله اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية

Artinya: “Sesungguhnya Allah apabila marah, maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi”

Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula, “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan diantara contoh hadits-hadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya:

سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي

Artinya: “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man, sebagai pelita umatku”

Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah:

Artinya: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris, yang paling menggetarkan umatku dari pada iblis”

d. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya.

Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi, misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga:

“Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak, masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun”

e. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah.

Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat, membuat hadits palsu:

من رفع يديه في الصلاة قلا صلاة له

Artinya: “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya”

Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu, diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa, dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama.



Ciri-Ciri Hadits Maudhu

1. Dalam hal Sanad

Pengakuan dari sipembuat sendiri, seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an, serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an, kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an.

Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru, padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad.

2. Dalam hal matan

Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu, dapat ditinjau dari segi makna dan segi lafadznya. Dari segi makananya, maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an, hadits mutawatir, ijma dan akal sehat.

Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih.



Hukum membuat dan meriwayatkan Hadits Maudhu

Para pembuat hadits maudhu, dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu, atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi, padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar.

Umat Islam telah sepakat (ijmak) bahwa hukum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu’ dengan sengaja adalah haram. Ini terkait dengan perkara-perkara hukum-hukum syarak, cerita-cerita, targhib dan tarhib dan sebagainya.

Yang menyelisihi ijmak ini adalah sekumpulan ahli bid’ah, di mana mereka mengharuskan membuat hadits-hadits untuk menggalakkan kebaikan (targhib), menakut-nakuti kepada kejahatan (tarhib) dan mendorong kepada kezuhudan. Mereka berpendapat bahwa targhib dan tarhib tidak masuk dalam kategori hukum-hukum syarak.

Tapi jika meriwayatkan hadits-hadits maudhu’ dan menyebutkan kedudukan hadits tersebut sebagai maudhu’, tidak ada masalah. Sebab dengan menerangkan kedudukan hadits tersebut membuat orang bisa bisa membedakan antara hadits yang sahih dengan yang maudhu’ dan sekaligus dapat menjaga Sunnah dari perkara-perkara yang tidak benar.

Dari keterangan di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa hadits maudhu’ merupakan sebuah ancaman besar bagi umat Islam. Hukuman para ulama yang ditujukan kepada pembuat hadits dan penyebarnya, cukup memberi gambaran kepada kita bahwa hal itu merupakan suatu perkara yang harus mendapat perhatian serius.

Kitab-Kitab Hadits Palsu

Sebagian ulama tafsir melakukan kesalahan dengan menyebutkan hadits-hadits palsu dalam tafsir mereka tanpa menjelaskan kepalsuannya, khususnya riwayat tentang fadhilah al-Qur’an surat per-surat. Diantara mereka adalah: As-Tsa’labi, Al-Wahidi, Az-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi.

Di antara kitab-kitab terkenal yang memuat hadits maudhu’ adalah sebagai berikut:
► Tadzkirah Al-Mawdhu’at, karya Abu Al-Fadhal Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi (448-507 H). Kitab ini menyebutkan hadits secara alphabet dan disebutkan nama perawi yang dinilai cacat (Tajrih).

► Al-Mawdhu’at Al-Kubra, karya Abu Al-Faraj Abdurrahman Al-Jauzi (504-597 H) 4 jilid.

► Al-La’ali Al-Mashnu’ahfi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah, karya Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H).

► Al-Ba’its ‘ala Al-Khalash min Hawadits Al-Qashash, karya Zainuddin Abdurrahim Al-Iraqi (725-806 H). ► Al-Fawa’id Al-Majmu’ah fi Al-Ahadits Al-Mawdhu’ah, karya Al-Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ali Asy-Syaukani (1173-1255 H).
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi