Home » » ASAS-ASAS UMUM YANG MENDASARI PEMILIHAN METODE PENDIDIKAN ISLAM

ASAS-ASAS UMUM YANG MENDASARI PEMILIHAN METODE PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Nurdalia
STAI Al-Gazali Bone


Sesungguhnya metode mengajar dalam pendidikan islam seperti juga dengan kurikulumnya dan segala sesuatu yang bersangkut paut dengannya mempunyai dasar-dasar dan sumber-sumber yang umum. Dasar-dasar dan sumber-sumber umum inilah yang merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang satu dengan yang lainnya dari suatu system pengajaran sehingga terwujud proses belajar mengajar.

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Pendidik dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi peserta didik. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya, pendidik gunakan untuk mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis.

Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode, asas-asas umum yang mendasari pemilihan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh , tapi nyata dan memang betul-betul diperkirakan oleh seorang pendidik.

Dalam kaitanya dengan pencapaian tujuan proses belajar mengajar ada 4 (empat) sumber atau dasar-dasar umum yang sangat besar pengaruhnya dalam memilih metode mengajar pendidikan agama islam adalah :

1). Dasar agama 2). Dasar psikologis 3). Dasar biologis 4). Dasar sosial


ASAS AGAMA

Yang dimaksud asas atau dasar di sini adalah prinsip-prinsip atau fakta-fakta umum yang pada dasarnya diambil dari teks Agama Islam. Pendidik muslim dapat menentukan metode mengajar yang akan digunakan perlu mengacu pada sumber pokok ajaran Agama Islam itu sendiri yakni Al-qur’an dan amalan-amalan Ulama Islam.

Di dalam Al-qur’an dinyatakan bahwa tujuan nabi Muhammad SAW di utus adalah mendikan masyarakat manusia yang bersih, bersih aqidah, bersih hubungan-hubungan dan bersih perasaan dan tingkah laku. Mulai dengan individu kemudian ajaran Islam itu mengembalikannya kepada fitrah yang sehat, mendidik hati nuraninya yang peka, membiasakannya akhlak yang utama dan mulia. Mendirikan keluarga atas dasar kasih, murah dan saling membentuk masyarakat atas dasar cinta, perpaduan dan keadilan yang menyusun hubungan berbagai masyarakat berdasar pada kejujuran dan kebebasan.

Dari sekelumit uraian di atas , dapatlah di tentukan macam-macam metode mengajar yang sesuai dengan mata pelajaran , bahan yang diajarkan., usia siswa dan suasana alam sekitar tentang penentuan metode yang akan dipergunakan dalam mengajar. Maka bisa kita dapati cara-cara pendidikan yang terdapat dalam Al-qur’an, sunnah nabi, amalan salaf assaleh dari sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya.

Jika kita ambil dari Al-qur’an misalnya , maka akan didapatkan metode mengajar yang baik adalah: tekhnik belajar sambil bekerja, metode bercerita (berkisah), tekhnik teladan yang baik, tekhnik pengajaran dari sejarah, metode pemecahan masalah, metode Tanya jawab, metode demonstrasi, tekhnik perintah pada ma’ruf dan melarang yang mungkar. Tehnik hukum dan balasan, tekhnik taubat dan hapus dosa, tekhnik induktif, tekhnik deduktif dan lain-lain.

Kemudian sunnah nabi yang suci dan perkataan dan amalan salaf asslakh telah menambahkan penjelasan dan uraian terhadap metode-metode dan Tekhnik-tekhnik di atas, diberikan tekhnik dan metode yang bersifat terperinci, setelah belajar dari faktor-faktor yang baru timbul dalam masyarakat Islam sesudah abad pertama hijriah. Antaranya sebab meluasnya bacaan-bacaan dan tulisan-tukisan tersebarnya pendidikan berhubungan dengan bangsa-bangsa dan kebudayaan bangsa lain yang memasuki tekhnik dan metode pendidikan dan pengajaran.

Juga berkenaan dengan metode mengajar yang belum pernah dipakai dan disebut dengan jelas metode proyek, metode unik-unik, metode pemberian tugas, metode pengajaran terencana (programmed), dan lain-lain. Metode pengajaran modem, tetapi orang yang membuka-buka tentang peninggalan Pendidikan Islam akan mendapati gambaran dan uraian tentang amalan dan tekhnik yang sesuai dengan metode tersebut. Dan andaikan tidak pernah disebutkan di dalam Pendidikan Islam, tetapi juga tidak terdapat di dalam islam yang melarang menggunakannya selama pendidikan ilmiah yang benar dan percobaan yang betul-betul menunjukkan bahwa itu baik dan berguna dalam menjalankan dan mengarahkan proses belajar dan sesuai pula dengan sifat-sifat pelajar dan ciri-ciri akalnya, maka dapatlah di pergunakan, sebab Islam datang untuk membawa manfaat, kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia , memudahkan urusan mereka dan sesuai dengan fitrah mereka yang benar.


ASAS PSIKOLOGI

Yang dimaksud dengan asas psikologi adalah sejumlah kekuatan psikologi termasuk motifasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan bakat dan kemampuan intelektualitas. Sebagai mana guru harus menjaga kekuatan psikologi, karna tingkah lakulah secara umum dan kegiatan serta proses belajar mengajar yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologi ini. Tingkah laku manusia, menurut kata ahli-ahli psikologi adalah suatu akibat dan bertujuan dalam waktu yang sama. Oleh karenanya seseorang perlu adanya motivasi dan pengalang untuk mendorong mengerjakan suatu pekerjaan.

Bila seorang siswa tidak berbuat seperti seharusnya, maka harus diselidiki sebab-sebabnya. Sebab itu bermacam-macam, mungkin ia tidak sanggup, lapar, benci pada pekerjaan, atau kepada guru, tidak pandai belajar, sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya. Dengan motifasi-motifasi dimaksud usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau, ingin melakukan apa yang dapat dilakukannya. Kalau anak itu suka melakukannya ia akan lakukan, tetapi bila ia tidak suka , ia akan berusaha mengelakkannya..Anak-anak itu akan giat mengangkat batu untuk mendirikan gedung tetapi mereka tidak sudi menggeser sebuah batupun kalau pekerjaan itu tidak menarik, kecuali dengan paksaan dan pengawasan. Anak yang mempunyai intelegensi tinggi mungkin gagal karena kekurangan motifasi. Hasil baik tercapai dengan motifasi yang tepat. Anak yang gagal tak bisa begitu saja bisa dipersalahkan. Mungkain gurulah yang tak berhasil memberikan motifasi yang membangkitkan kegiatan pada anak.

Memberi motifasi bukan pekerjaan yang mudah. Motifasi yang berhasil bagi seorang anak atau kelompok mungkin tak berhasil bagi anak atau kelompok lain. Seorang anak akan terdorong untuk melakukan sesuatu bila merasai sesuatu kebutuhan. Kebutuhan ini menimbulkan keadaan tidak seimbang. Rasa ketegangan yang meminta pemuasan segera kembali keadaan keseimbangan itu. Ketidak seimbangan itu dirasakan sebagai rasa tak puas “dissatisfaction is an essential elemen is motivation”, baik kebutuhan itu tidak terpenuhi, telah dipuaskan aktifitas akan berkurang atau menghilang.

Motifasi itu ada dua macam yaitu motifasi intristik dan ekstristik kepada siswa, kita tekankan lebih banyak menanamkan, motifasi ekstristik. Motifasi ekstristik menurut Sardiman AM, adalah:

“ motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar”. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.

Faktor lain yang juga berpengaruh bagi keaktifan seseorang untuk belajar adalah minat. Sebagaimana juga dengan motifasi guru perlu membangkitkan minat siswa untuk mempelajari suatu pelajaran.

Minat bagi anak adalah sangat penting, sebab tak dapat guru mengajarkan sesuatu kepada siswa, jikalau tidak ada minatnya akan sesuatu itu. Lain duduk perkaranya orang dewasa, dapat mereka memancangkan perhatian kepada sesuatu, walaupun tidak ada minatnya.orang dewasa lebih kuat kemauannya, tetapi bagi anak, lebih-lebih bagi anak yang masih muda, hal demikian mustahil dapat terjadi. Kemauannya masih lemah, rasa tanggungjawabnya belum kuat. Ada suatu kenyataan pada anak-anak; apabila tidak ada minat maka pelajaran sukar diterima. Jika ada minat, denga sendirinya belajar akan lancer, sebab niat adalah motor dalam belajar.

Berikut ini beberapa usaha untuk membangkitkan minat anak adalah:

1. tunjukkan minat itu sendiri

2. persiapkan pelajaran dengan sebaik-baiknya

3. harus bersambung kepada apa yang sudah dikenal

4. bahan pelajaran harus mengandung nilai praktis

5. adakan hubungan diantara bagian-bagian bahan pelajaran

6. berikanlah pelajaran berupa (berwujud)

7. adakan juga selingan

8. gaya mengajar harus hidup

9. jangan bentak-bentak atau ngelantur

10. ajaklah seluruh kelas ikut serta belajar

guru yang baik adalah yang menjadikan metode dan teknik pengajarannya sebagai pendorong bagi kegiatan siswa-siswanya dan menjadi penggerak bagi motivasi-motivasi dan kekuatan . ia akan berusaha membangkitkan dan memupuk minat siswa-siswanya agar menjadi lebih aktif . Giat dan ingin belajar dan merupakan cara untuk membuka jalan interaksi yang berguna yang bisa membawa kepada kebutuhan-kebutuhan dan keinginan dalam mencapai penyesuaian jiwa.

Diantara kebutuhan-kebutuhan jiwa yang patut dipelihara guru dalam metode dan cara mengajarnya adalah kebutuhan kepada ketentraman, kebutuhan akan kecintaan, kebutuhan kepada penghargaan, kebutuhan untuk menyatakan diri, kebutuhan kepada kebebasan, kebutuhan kepada pembaharuan, kebutuhan kepada kejayaan, kebutuhanuntuk tergolong dalam perkumpulan dan kebutuhan kepada perwujudan diri [self-actualization].


ASAS BIOLOGIS

Asas atau dasar pada biologis bermakna sekumpulan dan cicri-ciri jasmaniah yang mempegaruhi tingkah laku pengajaran pada proses belajarnya. Maka dari sekian kewajiban guru muslim adalah bahwa ia harus dapat memeliharanya dalam pengajaranya untuk menjamin kesuksesan tugasnya.

Berkaitan dengan dasar biologis ini, maka merupakan kewajiban guru untuk memelihara dalam metode mengajar, baik tentang ciri-ciri kebutuhan jasmaniah dan tahap kematangan siswanya. Ia harus memperhitungkan bahwa siswa-siswa itu , mempunyai kebutuhan bidang fisik yang harus dipuaskan dan dipenuhi supaya tercapai penyesuaian jasmani, psikologis dan sosial yang sehat.

Kebutuhan jasmaniah itu antara lain adalah kebutuhan akan udara yang sehat dan bersih, kebutukan untuk bergerak dan aktivitas. Kebutuhan untuk beristirahat, tidur dan sebagainya. Guru harus berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menolong siswanya untuk memenuhi segala kebutuhan itu. Sebab setiap kealpaan memenuhi salah satu kebutuhan itu akan menyebabkan kegoncangan jasmani dan psikologis atas kedua-duanya yaitu jasmani dan rohani, yang pada akhirnya mengakibatkan kerugian bagi murid dalam proses belajar.

Jika seorang guru ingin memenuhi kebutuhan siswa dengan udara bersih misalnya, perlulah siswa diajak kealam bebas. Mereka menghirup udara yang segar sambil belajar sesuatu bahan yang dipersiapkan oleh guru. Dan guru dapat menggunakan metode mengajar yang sesuai seperti metode karyawisata.

Demikian juga untuk murid bergerak dan aktifitas tetap berlangsung, perlu diberikan kepada siswa kegiatan-kegiatan yang selalu membuat mereka aktif. Untuk itu adalah sangat wajar dipergunakan cara belajar siswa aktif.

Kadar CBSA dapat diketahui dari indikator-indikatornya yaitu gejala-gejala yang menampak, baik pada tingkah laku siswa dan guru maupun dalam bentuk alat serta iklim ketika belajar mengajar berlangsung. Indikator-indikator tersebut antara lain:
adanya prakarsa siswa dalam kegiatan belajar yang ditunjukkan melaui alat keberanian memberikan pertanyaan tanpa diminta.
ketertiban mental siswa di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang tengah berlangsung, ditunjukkan dengan pendekatan diri pada tugas kegiatan-kegiatan, baik secara intelektual maupun secara emosional.
peranan guru yang baik sebagai fasilitator.
siswa belajar dengan pengalaman langsung (ekspriental learning).
kekayaan variasi bentuk dan alat kegiatan belajar mengajar, artinya karena tujuan-tujuan yang ingin di capai berfariasi. Mulai tujuan instruksional sampai dengan efek pengiring, di samping karena indifidual siswa maka senagai akibatnya bentuk dan alat kegiatan belajar mengajar seyogyanya kaya fariasinya (multi method and multi media approach)
kualitas interaksi antar siswa berlangsung, baik intelektual maupun sosio emosional, sehingga meningkatkan peluang pembentukan kepribadian seutuhnya, terutama berkaitan dengan kemauan dan kemampuan bekerjasama (social competence) dalam memecahkan masalah.

Jika kita ingin melatih siswa dalam suatu keterampilan yang bertalian dengan jasmani maka haruslah guru memelihara tahap kematangan segi jasmani yang berkaitan dengan keterampilan yang ingin dipelajarinya, misalnya kematangan otot jari-jari berkenaan dengan belajar menulis, kematangan otot-otot mata untuk belajar membaca. Latihan untuk sesuatu perlu kepada pemusatan yang behubungan erat dengan kematangan urat saraf. Juga telah diketahui bahwa kekuatan memuaskan perhatian jaraknya berpadam secara terbaik sesuai dengan usia dan kematangan siswa.


ASAS SOSIAL

Makna dan efektifitas pelajaran untuk sebagian besar bergantung pada rangka dan suasana sosial di mana pelajaran itu diberikan kata lain dengan kerja kelompok makna dan efektifitas pelajaran dapat dipertinggi. Hal ini sesuai dengan pengalaman sehari-hari yang dijumpai dalam masyarakat. Tidak dapat disangkai bahwa pertukaran pikiran antara sejumlah manusia memberikan pemikiran dan hasil pelajaran yang lebih baik. Itulah sebabnya masalah-masalah yang pelik lebih mudah dipecahkan oleh suatu kelompok dalam musyawarah. Dalam kerja kelompok yang baik terdapat keterlibatan, harmonis, saling pengertian tetapi di samping itu kelompok harus menghadapi suatu masalah yang mengandung makna, yang mereka pecahkan bersama dalam suasana gotong royong.

Penyelidikan tentang pengaruh sosial terhadap hasil belajar yang telah dijalankan sejak beberapa dan kini menarik minat dengan nama dinamika kelompok atau “group dynamics” berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri sosialisasi yang baik”.
fasilitas Social

seorang akan bekerja lebih baik apabila dilakukannya bersama dengan orang lain. Bedanya seorang di dalam kelompok menyebabkan bekerjanya dengan lebih cepat, lebih cermat. Keuntungan ini berkat adanya kelompok yang disebut sosial “interment” keuntungan akan lebih besar lagi bila anggota kelompok dapat melihatnya yang dilakukan oleh anggota-anggota lain. Dan kalo mereka bebas sebeluk-beluk sosial increment belum dipahami seluruhnya.

Tiap guru harus mengetahui “social momentum” yaitu ia tak perlu memberi segala dorongan agar anak-anak bekerja atau belajar. Adanya anak-anak yang pandai shalat atau mengaji Al qur’an dapat mendorong dan menggerakkan anak-anak lain untuk mempelajarinya. Tentu hal ini tak akan timbul dengan sendirinya dan memerlukan organisasi dan perencanaan dan pihak guru. Hasil itu tentu tidak akan tercapai kalau anak-anak pandai dipuji-puji sedangkan anak yang belum mengetahui dibuat merasa rendah diri. Fasilitas sosial (social facilities) akan timbul jika anak-anak yang telah menguasai sesuatu menjadi bukti-bukti bahwa mencapai sesuatu itu menggembirakan.
DoronganRangsangan

Banyak penelitian telah dijalankan tentang pengaruh bermacam-macam rangsangan pujian seperti, celaan, hukuman, persaingan, kerjasama dan sebagainya. Penyelidikan tidak menunjukkan mana yang baik dan mana yang tidak baik, melainkan memberikan penjelasan tentang pribadi dan sosial yang menguntungkan bagi hal belajar. Yang perlu dikemukakan adalah hal berikut:
penghargaan atas hasil pekerjaan dan usaha anak selalu perlu.
Rangsangan positif (seperti pujian dan penghargaan) lebih baik hasilnya dari pada rangsangan negatif (seperti kecaman, celaan, dan hukuman).
Pengaruh pujian dan penghargaan rupanya sangat bergantung kepada pribadi orang yang memberikannya. Orang itu harus dipercaya dihormati, penghargaan dapat juga datang dari anak-anak sendiri.

Bila anak-anak bekerja sama untuk suatu tugas hasilnya akan besar jika hubungan sosial, dan jika diberi penghargaan atas hasil yang telah dicapai.
kelompok Demokratis

penyelidilan akhir-akhir ini membuktikan bahwa organisasi pelajaran yang demokratis lebih baik hasilnya dari pada pendidikan yang bersifat otokratis.

Situasi bekerja dan belajar yang sebaiknya ialah bila suatu kelompok merasa suatu pekerjaan mereka lakukan atas inisiatif dan hasrat sendiri. Mereka merasa bertanggungjawab untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan ini sebaik mungkin. Pemimpin kelompok hendaknya mengambil sikap yang manusiawi dan turut membantu untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Sebaliknya hasil pekerjaan akan menjadi rendah, jika pimpinan menentukan atau menugaskan mereka melakukan sesuatu menurut cara-cara yang ditentukan. Situasi yang otokratis serupa ini akan merupakan hal yang baik dan akan menimbulkan raga agresif dan kepatuhan yang dipaksakan.

Walaupun terbukti bahwa organisasi demokratik memberi hasil yang otientik yang lebih kuat., ternyata kebanyakan kelas masih diselenggarakan secara otokratis. Anak yang dianggap baik ialah pendiam dan penurut, inisiatif kepemimpinan, berpikir sendiri dari pihak siswa kurang mendapat perhatian guru. Kesulitan-kesulitan disipin di atasi dengan hukuman, kecaman, bahkan dengan ancaman. Cara mengajar dinilai akan menghalangi tercapainya sukses.

Dalam kaitan hal di atas, seorang guru muslim dalam mengajarnya setia sekata dan bersesuaian dengan nilai-nilai masyarakat dan tradisisi-tradisi yang baik dan begitu pula harus menjaga perubahan-perubahan yang berlaku di dalam masyarakat dan berusaha mengadakan perubahan yang baik, mengambil manfaat dan kemudahan serta peluang yang ada di dalamnya.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi