Home » » Usaha Lanjutan Pengumpulan dan Pemeliharaan Al-Qur’an Pasca Khulafa Al- Rasyidin

Usaha Lanjutan Pengumpulan dan Pemeliharaan Al-Qur’an Pasca Khulafa Al- Rasyidin

Setelah periode Khalifah Utsman, pemelihara Al-Qur’an dikalangan umat Islam semakin diperketat dengan teliti dan hati- hati. Sebagaimana diketahui bahwah mushaf yang ditulis pada masa Utsman tidak bertitik dan tidak bertanda baca. Pada masa bani Umayyah, yaitu pada masa Khalifah Muawiyah dirasakan perlunya memberi tanda baca, mengingat banyaknya orang non Arab yang masuk Islam. Jika mereka membaca Al- Qur’an, akan mengalami kendala karena tidak ada tanda baca tersebut. Untuk melakukan hal ini maka ditunjuklah Abul Azwad mendiktekan. Lalu dilakukanlah pemberian tanda baca dengan memberi titik pada huruf-huruf akhir pada setiap kalimat. Titik di atas huruf berarti Fathah. Titik di bawah huruf berarti Kasrah. Dua titik berarti Tanwin, titik di depan huruf berarti Dommah, dan seterusnya.

Pada periode berikutnya, mushhaf terus mengalami perbaikan seperti penomoran ayat, pemberian nama surah, jumlah ayat pada satu surah dan urutan turunnya, tanda wakaf, dan sebagainya.

Penerbitan Al-Qur’an dengan label Islam baru dimulai pada tahun 1787, yang menerbitkannya adalah Maulaya Utsman. Dan mushaf cetakan itu lahir di Saint-Petersbourg, Rusia, atau Leningrad, Uni Soviet sekarang. Lahir lagi kemudian, mushaf cetakan di Kazan. Kemudian terbit lagi di Iran. Di negara Arab, Raja Fuad dari Mesir membentuk panitia khusus penerbitan Al-Qur’an ini pada tahun 1342H\ 1923 M, berhasil menerbitkan mushaf Al-Qur’an cetakan yang bagus. Mushaf yang pertama terbit di negara Asia ini dicetak sesuai dengan riwayat Hafsah. Sejak itu berjuta-juta mushaf di cetak di Mesir dan di berbagai negara.

Di Indonesia sendiri percetakan Al-Qur’an telah berlangsung lama dan masih terus dilakukan. Departemen Agama Republik Indonesia dalam hal ini mempunyai peranan penting dan mulia dengan dibentuknya “Lajnah Pentashhih Mushaf Al-Qur’an” yang bertugas memeriksa dan mentashhih naska-naska Al-Qur’an yang akan di cetak atau yang telah dicetak. Lembanga inilah yang mengawasi seluruh peredaran mushhaf Al-Qur’an di Indonesia.

Sekilas faktah ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Indonesia sebagai negara terbesar berpenduduk muslim di dunia juga memiliki perhatian dan kepedulian yang cukup terhadap eksitensi Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sumber hukum, dan sekaligus memiliki semangat untuk menjaga dan memelihara kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi