Home » » Pungumpulan Al-Qur’an Pada Masa Utsman Bin Affan

Pungumpulan Al-Qur’an Pada Masa Utsman Bin Affan

Ketika Utsman bin Affan memegang kekhalifaan, dan para sahabat berpencar keberbagai daerah dan masing-masing membawa bacaan yang didengarnya dari Rasulullah Saw. Serta diantara mereka ada yang memiliki bacaan yang tidak dimiliki oleh lainnya, setiap pembaca (qari’) mengunggulkan bacaannya dan meyakinkan bacaan qari’ lainnya sehingga permasalahan tersebut menjadi besar, perselisihanpun semakin melincah.

Sebagaimana digambarkan dalam sejarah, sekembalinya Huzaifah bin Yaman dari peperangan menaklukkan daerah Armenia dan Azerbaijan, ia mengutarakan kekhawatirannya kepada khalifah Utsman bin Affan tentang perbedaan bacaan Al-Qur’an di kalangnan kaum muslimin. Cara-cara pembacaan Al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan huruf dengan Al-Qur’an diturunkan. Apabila mereka berkumpul pada suatu pertemuan, atau disuatu medan pertempuran, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaaan qiraat’ itu.

Atas kejadian tersebut, Utsman kemudian bermusyawarah dengan para sahabat apa yang harus dilakukan. Kemudian ia menugaskan Zaid bin Tsabit mengumpulkan Al-Qur’an. Bersama Zaid ikut bergabung tiga anggota keluarga Mekah yang terpandang yaitu: Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits. Satu perinsip yang mereka ikuti dalam menjalankan tugas ini adalah bahwa dalam kasus kesulitan bacaan, dialek Quraisy (suku dari nama Nabi berasal) harus dijadikan pilihan.

Rujukan utama dalam dalam penulisan mushaf pada masa ini adalah mushaf yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar yang masih tersimpan dengan baik di rumah Siti Hafsah, istri Nabi dan Putri Umar bin Khattab. Selain itu Usman juga berusaha mencari bahan hafalan dan tulisan para sahabat. Pedoman lainnya ialah jika pada suatu kalimat terdapat dua bacaan atau lebih yang tidak bisa dirangkum dengan satu tulisan, maka kedua bacaan tersebut ditulis pada mushaf lain. Dengan demikian, Utsman tidak menghilangkan bacaan yang telah diajarkan pada masa Nabi, tetapi malah justru ingin melestarikannya dengan cara merangkumnya di beberapa mushaf. Utsman hanya ingin mencantumkan ayat-ayat Al-Qur’an yang betul-betul di ajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya.

Setelah mereka menyalinnya menjadi beberapa mushaf, empat diantaranya dikirim ke Mekah, Syiria, Basrah dan Kufah dan satu disimpan di Madinah, dinamai “ Mushaf Al-Imam”, Utsman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Selanjutnya Utsman memerintah agar semua Al- Qur’an atau mushaf lainnya dibakar.
Share this article :

Favorite Post


 
Support : Pendidikan | Islam | Dan Anak
Copyright © 2013. Komunitas Al-gazali Bone - All Rights Reserved
Template Created by Algazali Template Published by Komunitas Al-gazali Bone
Proudly powered by Yushan Blog Pribadi